Powered by Blogger.

Y


Entah dari mana kekuatan ini muncul. Pertanyaan besar yang muncul beberapa hari ke belakang hingga saat ini.

Sebuah gambaran klise yang muncul dengan frame yang tampak indah dapat saya tangkap sesaat setelah melakuakan observasi terhadap pertanyaan yang muncul tadi.
Aaah…saya yakin jawabannya ada di gambar itu. Saya coba untuk menelusuri gambar tersebut, meneliti dan mengamati hingga tampak jelas namun sedikit kabur. Namun saya berusaha untuk memperjelas gambarannya, dan akhirnya setelah saya menerobos istana pikiran saya, saya dapati gambaran tadi tepat 30 cm di depan mata saya.

Gambaran antusias, animo tinggi, semangat juang, pantang menyerah, orientasi masa depan gemilang, cinta ilmu, langkah-langkah menuju surga, respect, serta kompetisi untuk menjadi yang terbaik terpampang nyata di sebuah frame minimalis namun fleksibel dengan design paling mutakhir.
Namun saya fikir ini adalah potongan-potongan puzzle yang masih harus disusun.

Hmm….sangat mudah, permainan anak-anak. Sekali lihat, saya bisa solving semua piecesnya. Tidak perlu mengenal center, corner, edge, tidak perlu membuat cross, tidak perlu mencari empty slot untuk menyelesaikan first two layers, tidak harus menghafal algoritma, tidak harus menghafal 57 kasus saat di tahap orientation last layer dan 27 kasus di tahap penyelesaian permutation last layer seperti saat solving rubik cube.

Saya biarkan intuisi saya yang bertindak….

Saya mulai menyusun puzzlenya potongan demi potongan hingga akhirnya selesai dan, ahh…

Kenapa saya harus mempermasalahkan kekuatan yang muncul itu?
 Jawabanya, karna memang harus….

Dengan keadaan yang tidak biasa, fase semangat terendah yang dirasakan karna factor eksternal yang menyerang, sehingga kadang kebanyakan orang akan berfikir lebih baik untuk men-charge semangat dan memulihkannya, daripada harus keluar dan menghabiskan stamina dan malah memperburuk keadaan. Ingat, dalam kasus ini saya mendapat kekuatan.

Aneh, tapi sebenarnya tidak sama sekali.

To be continued…


M

Senang tinggal disini ?

Tentu saja…

Bagaimana tidak..

Disini saya bisa berkumpul bersama orang-orang luar biasa, orang-orang yang melangkahkan kakinya menuju surga..

Bagaimana tidak,..

Disini saya bisa belajar untuk mencintai,..
Mencintai Allah, mencintai rasul, mencintai orang tua, diri sendiri, saudara, murid-murid, teman-teman, guru.

Bagaimana tidak,..

Keseharian saya berinteraksi dengan para penuntut ilmu, belajar bersama, diskusi bersama, bercanda, senang sedih, kami habiskan semuanya disini.
Dan alasan itulah yang membuat saya masih bertahan disini.

10 tahun, hampir 11 tahun saya disini, bukan waktu yang singkat. Tapi tidak terasa lama, karna saya punya alasan yang kuat untuk berada disini.

Ya..murid-murid, tidak, saya anggap mereka seperti teman, kami sama-sama menghabiskan waktu disini, mereka sudah mempunyai tempat khusus dihati saya, mereka tidak akan pernah saya lupakan, walaupun diantara mereka ada yang ingin melupakan saya, saya tidak peduli.
Mungkin kita sering mendengar seorang murid yang menuliskan kisah tentang gurunya, lalu kenapa tidak seorang guru yang menulis tentang murid-muridnya.
Saya tidak memungkiri bahwa jasa guru itu sangat banyak, tapi jangan lupakan murid-murid, mereka juga punya andil dalam penyematan kalimat pahlawan tanpa tanda jasa untuk para guru.

Untuk mereka saya ucapkan terima kasih karna sudah tertulis dicatatan sejarah kehidupan saya.


Beberapa Faham Pemenuhan Kebutuhan

Tiga faham aktifitas ekonomi dalam pemenuhan kebutuhan

1. Faham Spiritual atau Ruhbaniyyah

Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, faham spiritual hanya bertumpu pada do'a saja, lebih menekankan pada aspek moral, kerohanian dan menyampingkan aspek kebendaan dalam kehidupan manusia.

2. Faham Material dan Kebendaan

Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, menekankan pada aspek kebendaan, segala ikhtiar manusia hanya terfokus pada pencapaian materi (kebendaan), sedangkan aspek moral diabaikan sehingga dalam pemenuhan kebutuhan hanya tertumpu pada aspek ekonomi semata yang pada akhirnya dalam cara perolehannya menghalalkan segala macam cara, baik dengan jalan benar maupun tidak.

3. Konsep Islam

Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, faham islam selaras dan seimbang antara kebutuhan material dan kebutuhan etika manusia, antara kebutuhan jasmani (hajat 'udhowiyyah) dan kebutuhan rohani (hajat al ghoroiz). Apabila aspek moral daipisahkan dari kebutuhan dan perkembangan ekonomi, maka akan kehilangan kontrol yang menjaga kastabilan dan keseimbangan dalam sistem sosial.

Keseimbangan merupakan salah satu prinsip islam yang sangat mendasar, yang banyak disebutkan contohnya didalam al quran, baik yang menyangkut keseimbangan alam lingkungan (Q.S. Ar-Rahman : 7-9), keseimbangan manusia didunia dan akhirat (Q.S. Al-Qoshos : 77), maupun keseimbangan dalam berinfaq (Q.S. Al-Furqon : 67), Al-Isra : 29). Keseimbangan ini apabila dilanggar oleh manusia akan menimbulkan goncangan, dan ketidakstabilan, dan berakibat kerusakan (Q.S. Ar-Ruum ; 41).

Macam-Macam Kebutuhan Manusia

Kebutuhan manusia secara kuantitas dapat dikelompokan sebagai berikut :

1. Berdasarkan sumber yang merasakan kebutuhan, dikelompokan menjadi dua, yaitu :
    
    a. Kebutuhan jasmani (al-hajat al-'udhowiyah), merupakan kebutuhan yang lebih banyak dirasakan oleh jasmani (raga) manusia. Misalnya seseorang memakai pakaian akan merasakan tubuhnya lebih hangat, ia berlindung dibawah pohon maka ia tisak akan merasakan panasnya matahari, ia makan dan minum akan merasakan hilangnya rasa lapar dan haus. Kebutuhanseperti ini merupkan suatu keharusan yang memerlukan pemenuhan segera ketika tuntutan itu datang. Dalam batas tertentu, kebutuhan ini tidak bisa ditunda-tunda karena akan menimbulkan kemudhorotan jasmani, bahkan berakibat kematian bila tidak segera dipenuhi, seperti kebutuhan akan makan dan minum.

    b. Kebutuhan naluri (hajat al-gharaiz), kebutuhan ini lebih banyak dirasakan oleh rohani (jiwa) manusia, Misalnya orang yang  beribadah, jiwanya merasa tentram, kemudian orang yang selamat dari amukan binatang buas akan mersa tenang kembali setelah hilangn rasa takutnya, lalu ketika bertemu seseorang yang dirindukan iamrasa bahagia.

Ada tiga gharizah yang butuh akan pemenuhan :
1. Gharizah at-tadayyun (naluri beragama)
2. Gharizah al-baqo" (naluri memperthankan diri)
3. Ghaizah an-nau' (kecenderungan terhadap orang lain).
Berbeda dengan hajat al-'udhowiyah, gharizah ini bilamana tidak terpenuhi dalam batas tertentu, tidak membahayakan jasmani dan tidak berakibat kematian.
Selain itu, tuntutan akan kebutuhan jasmani selalu muncul dari dalam diri manusia, seperti rasa lapar dan haus, sedangkan tuntutan akan kebutuhan gharizah setelah adanya rangsangan yang datang dari luar diri manusia.
Allloh menciptakan alam semesta sebagai rangsangan terhadap gharizah at-tadayyun guna memenuhi kebutuhannya. Dan ini semua diisyaratkan pada :
- Q.S. Adz dzariyat : 20-22
Artinya : "Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin,
dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?

Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezkimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu".

- Q.S. Fathir : 27-28
Artinya: "Tidaklah kamu melihat bahwasannya Allah menurunkan hujan dari langit lalu kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka ragam jenisnya. Dan diantara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. Dan demikian (pula) diantara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun".

- Q.S. Al an'am : 57-78

- Q.S. Al Waqi'ah : 57-72

Sementara gharizah an nau' khususnya berkenaan dengan jinsiyyah (lawan jenis), maka segala bentuk rangsangan yang melahirkan tuntutan pemenuhan dibatasi oleh Alloh ta'ala, seperti larangan berkholwat dan ikhtilath (Q.S. Al Isra : 32) “Dan janganlah kalian mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk", perintah menutup aurat (Q.S. An-nur : 30-31) ", dan menahan / menundukan pandangan (Q.S. Al Ahzab : 59).

2. Berdasarkan tingkat kepentingan, kebutuhan dikelompokan menjadi tiga, yaitu :
  a. Kebutuhan Primer (al hajat al asasiyyah)
 Merupakan kebutuhan yang senantiasa harus dipenuhi (kebutuhan dasar). Makan, minum, pakaian, dan rumah merupakan kebutuhan dasar manusia, baik miskin maupun kaya.
 b. Kebutuhan sekunder (al hajat al kamaliyyah)
 Merupakan kebutuhan pelengkap. Seorang yang telah memiliki rumah dan mempunyai taraf kehidupan yang baik akan membeli barang elektronik seperti televisi dan kulkas. Kegiatan ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan sekunder.
 c. Kebutuhan tersier (tahsinat)
 Merupakan kebutuhan yang sangat mewah (lux). Seperti mobil mewah, perhiasan yang mahal. Kebutuhan tersier ini hanya dapat dipenuhi oleh orang berpenghasilan tinggi. Karna barang-barang dirumahnya telah lengkap.

Dalam menyikapi kebutuhan, islam memberikan solusi yaitu adanya keseimbangan antara kebutuhan material dan kebutuhan etika manusia, atau antara kebutuhan jasmani (hajat al 'udhowiyyah) dan kebutuhan rohani (hajat gharizah). Sehingga dalam memenuhi kebutuhannya, selalu memperhatikan hal-hal yang memang dianggap perlu, dengan mengutamakan kebutuhan primer dari kebutuhan-kebutuhan sekunder.


Peran dan kewajiban negara atau pemerintah dalam memenuhi kebutuhan ini adalah memberikan kemudahan bagi setiap anggota masyarakat agar sedapat mungkin memenuhi kebutuhan primernya, disamping memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier sesuai dengan kemampuannya. Dengan prinsip tidak berlebihan dan bermewah-mewah menurut hawa nafsu, karena yang demikian berarti mengikuti langkah-langkah syetan (Q.S. Al Baqoroh : 168), (Q.S. Al An'am : 141-142), (Q.S. An Nisa : 31). 

Permasalahan Ekonomi lslam #1

A. Kebutuhan Manusia

Secara kuantitas, kebutuhan manusia tidak terbatas, hampir-hampir tidak pernah berhenti jika satu kebutuhan sudah terpenuhi, maka akan muncul kebutuhan yang lain sehingga manusia akan memperjuangkan seluruh hidupnya untuk memuaskan rentetan kebutuhan yang tiada hentinya. Namun secara kualitas, keinginan dan kebutuhan manusia sebetulnya terbatas (limited), yang tak terbatas adalah nafsu. Keinginan untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum berlangsung dalam jangka waktu dan tempat yang terbatas. Dalam transaksi riil yang kita lakukan juga ada keterbatasan, baju bisa dihitung, rumah bisa dihitung. Jadi transaksi riil terbatas, umur juga terbatas. Bahkan kini alat pemenuh kebutuhan manusia, sentuhan teknologi dan ilmu pengetahuan menjadi tak terbatas.

Sebenarnya itulah sifat dari kebutuhan yang memerlukan dan mengarah pada usaha-usaha yang tetap dari sisi kehidupan manusia untuk memenuhi kebutuhan yang secara kuantitas senantiasa bertambah, namun secara kualitas ada batasnya. Itulah yang disinyalir dalam al quran surah (Al ma'arij : 19-22) yaitu "Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir, bila ditimpa kesusahan ia berkaluh kesah, dan apabila ia mendapatkan kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang shalat".

Perbedaan Sistem Ekonomi Islam Dengan Ekonomi Yang Lain

Perbedaan Sistem Ekonomi Islam Dengan Ekonomi Yang Lain

1. Asumsi dasar / norma pokok ataupun aturan main dalam proses maupun interaksi kegiatan ekonomi yang diberlakukan. Dan asumsi dasarnya adalah "syari'ah Islam" diberlakukan secara menyeluruh, seperti yang dijelaskan didalam surah (al baqoroh : 208) "Hai orang-orang yang beriman masuklah kalian kedalam islam secara keseluruhan". baik terhadap individu, keluarga, kelompok masyarakat, maupun pemerintah / penguasa, usahawan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, baik untuk keperluan jasmaniah maupun rohaniah.

2. Sumber syari'at adalah al quran, sunnah rosul, ijma', dan qiyas.

3. Prinsip ekonomi islam adalah penerapan asas efisiensi dan manfaat dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan alam. Seperti yang terdapat didalam surah (al 'ashr : 1-3), dijelaskan bahwa Alloh ta'ala bersumpah demi masa - dan Alloh tidak bersumpah kecuali dengan hal yang agung - bahwasanya seluruh manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang mempunyai empat sifat, yaitu (iman, beramal sholeh, saling menasehati perihal kebenaran, dan saling menasehati dalam bersabar)

4. Motif ekonomi islam adalah mencari "keuntungan" di dunia dan di akhirat selaku khalifatullohi fil ardhi dengan jalan beribadah secara luas.
Seperti yang terdapat didalam surah (ash shaff : 10), bahwa Alloh ta'ala menjelaskan tentan perniagaan yang bisa menyelamatkan manusia dari adzab neraka, dan itulah sebaik-baiknya keuntungan yang didapatkan manusia.

5. Untuk membangun sebuah sistem ekonomi diperlukan tiga prinsip :

a. Prinsip kepemilikan (mabda' al milkiyyah),

 Maknanya adalah, manusia mempunyai hak untuk memiliki sesuatu, akan tetapi harus diyakini pula bahwa pemilih yang hakiki untuk segala sesuatu adala Alloh ta'la, bukan hanya yang kita miliki, tapi diri kita sendiri adalah milik Alloh ta'ala.

 b. Prinsip kebebasan tashorruf / pengelolaan kepemilikan (mabda' al hurriyah al iqtishodiyyah)

Maknanya adalah, manusia mempunyai kebebasan untuk mengelola barang yang dimilikinya, dengan catatan harus sesuai dengan ketentuan syariat islam.

 c. Prinsip keadilan dalam distribusi (mabda' al 'adalah al ijtima'iyyah)

Dan  prinsip yang ketiga ini merupakan hal terpenting, karena dengan dijalankannya prinsip ini, dapat terealisasinya peme
rataan kesejahteraan manusia, dan tidak adanya kesenjangan sosial di kehidupan masyarakat, dikarenakan penyaluran kesejahteraan dilakukan dengan adil.

Pengertian Ekonomi Islam

Kajian tentang ekonomi islam menyangkut dua hal pokok, yaitu ilmu ekonomi dan sistem ekonomi.
Ilmu ekonomi dan sistem ekonomi mempunyai objek kajian yang sama yaitu tentang ekonomi, namun fokus pembahasan ilmu ekonomi adalah faktor produksi, yang berkaitan dengan kaifiyyat intaj al-tsarwah, yakni bagaimana cara memproduksi atau menghasilkan barang dan jasa, kualitasnya, serta perbaikan sarana-sarananya. Sedangkan fokus pembahasan sistem ekonomi adalah faktor distribusi, yang berkaitan dengan kaifiyyat tauzi' al-tsarwah, yakni bagaimana cara pendistribusian hasil produksi, atau pendistribusian kekayaan baik berupa barang maupun jasa, serta bagaimana melakukan transaksi terhadap keduanya.

Dengan demikian, pembahasan sistem ekonomi berhubungan dengan sebuah konsep (pemikiran) yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh pandangan hidup (way of life) tertentu, sementara ilmu ekonomi merupakan sebuah sains murni yang berhubungan dengan sarana pemenuhan kebutuhan serta cara menghasilkannya.

Sistem ekonomi islam adalah penerapan ilmu ekonomi dalam praktek sehari-hari bagi individu, keluarga, kelompok, masyarakat, maupun pemerintah / penguasa dalam rangka mengorganisir fakta produksi, distribusi dan pemanfaatan barang dan jasa yang dihasilkan tunduk dalam peraturan / perundang-undangan islam.

Jadi kesimpulannya adalah :

1. Ilmu Ekonomi
Ilmu yang membahas tentang cara (mencapai, memperbanyak, menjaga / memelihara) harta / kebutuhan  yang dipengaruhi oleh ideologi tertentu.
2. Sistem Ekonomi
Membahas tentang mekanisme / tata cara untuk (mendapatkan, memperbanyak, menjaga, mendistribusikan) harta / kebutuhan yang dipengaruhi oleh ideologi tertentu.
3. Sistem Ekonomi Islam

Membahas tentang mekanisme / tata cara (mendapatkan, memperbanyak, menjaga, mendistribusikan) harta / kebutuhan yang seseuai, diatur dan tidak melanggar aturan dalam al quran dan as sunnah.

Pengantar Ekonomi Islam #2

Islam dalam bahasa arab berarti Din, yang mempunyai beberapa arti, diantaranya adalah :

1. Pembalasan, seperti yang terdapat dala surah (Al fatihah : 4)

(مالك يوم الدين)

Artinya : "Yang menguasai hari pembalasan"

2. Kepercayaan / agama, seperti yang terdapat dalam surah (Al kafirun : 6)

(لكم دينكم ولي دين)

Artinya : "Untukmu agamamu, dan untukku agamaku"

3. Sistem / undang-undang, seperti yang terdapat dalam surah (Yusuf : 76)

(...ما كان ليأخذ أخاه في دين الملك إلا أن يشاء الله...)

Artinya : "Dia tidak dapat menghukum saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Alloh menghendakinya"

Secara terminologi, islam didefinisikan sebagai nizhom atau aturan Alloh yang diturunkan kepada rasulullah muhammad sallallahu 'alaihi wasallam untuk mengatur hubungan manusia dengan Alloh ta'ala, hubungan manusia dengan sesama manusia, dan hubungan manusia dengan dirinya sendiri.
Hubungan manusia dengan Alloh seperti shalat, shoum, zakat, dan haji. sedangkan hubungannya dengan sesama manusia seperti dalam kegiatan ekonomi, sosial, pendidikan, politik, pemerintahan. Dan hubungannya dengan dirinya sendiri seperti dalam maka dan minum, mana yang halal, dan mana yang haram, dan dalam hal berpakaian, seperti perintah wajib menutup aurat bagi wanita, yang terdapat dalam surah (al ahzab : 59).
Artinya : "Wahai nabi ! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, 'Hendaklah mereka menutup jilbabnya keseluruh tubuh mereka'. Yang demikian itu agar mereka mudah dikenali, sehungga mereka tidak diganggu. Dan Alloh maha pengampun lagi maha penyayang".

Semua aturan tersebut jika dilakukan sesuai dengan ketentuan Alloh dan Rasul-Nya maka perbuatan tersebut bernilai ibadah dan mendapat ganjaran disisi Alloh.

Syarat utama dari sebuah perbuatan bernilai ibadah ada tiga :

1. Perbuatan itu dilakukan oleh orang mukmin, sehingga jika perbuatan apapun sebanyhak apapun jika dilakukan oleh orang kafir, maka dia tidak akan mendapatkan apa-apa dari Alloh ta'ala, seperti yang dijelaskan didalam surat (An Nur ; 39) dan (Al Kahfi : 103-106)
2. Dilakukan dengan dasar niat yang ikhlas, seperti yang terdapat didalam surah (Al Bayyinah : 5)
3. Dilakukan menurut sunnah rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, terdapat dalam surah (Al Hasyr : 7), (Al ahzab : 21),
Ketiga syarat tersebut disimpulkan menjadi (Iman, Ikhlas, Ittiba'ussunnah).
 Islam memiliki pandangan hidup (aqidah) tersendiri serta aturan hidup (syari'at) yang berbeda dengan agama lain. Aqidah merupakan fondasi atau ushul, wajib diyakini tanpa ada keragu-raguan. Sedangkan syari'at merupakan furu' atau cabang sebagai penjabaran dari aqidah yang mengandung ketentuan umum dan khusus yang wajib diamalkan. Ketentuan-ketentuan ini disebut dengan al ahkam al khomsah (lima hukum) yaitu wajib, sunnah, haram, makruh, dan mubah.

Setiap muslim dituntut untuk senantiasa memiliki keterikatan dengan syari'at dan berjalan diatas jalannya yang lurus, serta melaksanakan ajaran islam secara kaaffah (keseluruhan). Jikalau tidak, maka dihadapkan kepada peringatan dan ancaman Alloh ta'ala. sebagaimana termaktub dalam surah (Al baqoroh : 85)

Sumber syari'at adalah Al Quran, Sunnah, Ijtihad (Ijma', dan Qiyas).

Pengantar Ekonomi Islam #1

PENGERTIAN EKONOMI ISLAM

Ekonomi Islam dalam istilah bahasa arab disebut Al-Iqtishad Al-Islamiy.
Secara etimologi iqtishad artinya jujur, patuh, taat, lurus, pertengahan, sederhana atau hemat.
- Karna orang yang jujur disebut juga muqtashid, seperti yang telah dijelaskan didalam al quran (surah al maidah : 66).

( ....منهم أمة مقتصدة ....)

Artinya : "....diantara mereka ada kelompok yang jujur dan taat...."
- Dan jalan yang lurus juga disebut muqtashid, (surah Luqman : 19)

(...فلما نجاهم إلى البر فمنهم مقتصد....)

Artinya : "...tetapi ketika Alloh menyelamatkan mereka sampai didaratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus...".
- Juga diartikan pertengahan, (surah fathir : 32)

(...فمنهم ظالم لنفسه ومنهم مقتصد...)

Artinya : "...lalu diantara mereka ada yang mendzolimi diri sendiri, dan ada yang pertengahan...".
- Kita diperintahkan untuk berlaku sederhana(tidak menyombongkan diri) dalam berjalan, (surah luqman : 19)

(...واقصد في مشيك واغضض من صوتك...)

Artinya : "Dan sederhanakanlah dalam berjalan..."
- Dan sederhana didalam berinfaq (membelanjakan harta), (surah al furqon : 67)

(والذين إذا أنفقوا لم يسرفوا ولم يقتروا وكان بين ذلك قواما)

Artinya : "Dan (termasuk hamba-hamba tuhan yang pengasih) orang-orang yag apabila menginfakkan ( harta), mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir".
Dan lawan kata dari Iqtishad adalah boros (taddzir), dan setiap orang yang boros adalah kawannya syaiton (surah Al isra : 26-27)

(وآت ذا القربى حقه والمسكين وابن السبيل ولا تبذر تبذيرا * إن المبذرين كانوا إخوان الشيطان وكان السيطان لربه كفورا)

Artinya : "Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boraos. * Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara setan, dan setan itu sangat ingkar kepada tuhannya.

Dan Islam secara etimologi, berasal dari kata kerja "salima" yang berarti selamat. Kemudian mendapat tambahan huruf sehingga menjadi "aslama" artinya patuh, tunduk, dan berserah diri. Dan ini dijelaskan didalan (surah Ali 'Imron : 83 dan 85)

(أفغير دين الله يبغون وله أسلم من في السماوات والأرض طوعا وكرها وإليه يرجعون)

Artinya : "Maka mengapa mereka mencari agama yang lain selain agama Alloh, padahal apa yang di langit dan di bumi berserah diri kepada-Nya, baik dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepadan-Nya mereka dikembalikan.

(ومن يبتغي غير الإسلام دينا فلن يقبل منه وهو في الآخرة من الخاسرين)

Artinya : "Dan barang siapa mencari agama selain agama islam,dia tidak akan diterima, dan diakhirat dia termasuk orang yang rugi".

Islam adalah dinulloh, artinya agama Alloh, (surah Ali 'Imron : 19)

(إن الدين عند الله الإسلام)

Artinya : "Sesungguhnya agama disisi Alloh ialah Islam".

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, aagama diartika dengan sistem atau prinsip kepercayaan kepada tuhan (dewa, dsb) dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan itu.

Dalam Ensiklopedia Prancis, disebutkan bahwa para ilmuan di Barat telah mengemukakan 100 definisi tentang agama, hanya 2 definisi yang disepakati dan 98 lainnya ditolak.
Dari dua definisi yang deterima itu adalah :

1. Agama adalah cara yang dipergunakan oleh manusia untuk merealisir hubungannya dengan kekuatan ghaib yagn maha tinggi.
2. Agama adalah mencakup segala sesuatu yang dikenal dengan segala kekuasaan yang tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan.

Pengertian agama seperti  ini tidak tepat dinisbatkan kepada islam, karena islam adalah sebuah pandangan hidup yang harus diyakini (aqidah) dan sebuah sistem hidup (manhajul hayat) yang harus dijalani.

Awas...!!! Hati - Hati Dengan Lisanmu

بسم الله الرحمن الرحيم
Ada sebuah pepatah dalam bahasa arab yang berbunyi :
(سلامة الإنسان في حفظ اللسان(
Artinya : Keselamatan manusia itu terletak pada penjagaan terhadap lisannya.
            Manusia tidak akan celaka – insya alloh – kalau dia pandai menjaga lisannya dari berkata yang bisa menyakiti hati orang, karna ketika orang tersinggung dengan perkataan kita, bisa saja orang tersebut mencelakakan kita. Makanya disni kita dianjurkan untuk menjaga lisan kita dari perkataan buruk.
            Ada pula sebuah kisah pada zaman dahulu yang menceritakan tentang seorang tuan dan budaknya, saat itu sang tuan ingin memakan daging kambing, maka disuruhlah budak tersebut untuk menyembelih seekor kambing, dan dia melakukannya.

Hakikat Cinta Yang Sesungguhnya

Cinta...

            Cinta itu bisa datang dan pergi, tapi lebih sering datang dari pada pergi. Entah itu salah atau benar, tapi menurut saya itu benar. Jangan tanya kenapa..! itu pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Atau mungkin bisa dijawab, dan jawabannya sangat simpel...(karna itu yang mungkin kita rasakan saat ini). Hehe...yap, dia selalu datang begitu saja, berbeda saat dia pergi, kadang kita harus mengerahkan seluruh kemampuan kita agar dia pergi. Bukan karna tidak suka, hanya karna kita tidak ingin larut dalam buayannya.
            Banyak orang yang tidak sadar bahwa dia telah tunduk pada cinta, yang seharusnya cintalah yang harus tinduk pada kita. Kita yang mengendalikan cinta, bukan cinta yang mengendalikan cinta. Mungkin kita semua pernah mendengar kalimat “cinta itu buta”, dan itu bisa jadi benar adanya. Oleh karnanya,

Kiat-Kiat Agar Terhindar Dari Maksiat

Disini saya akan menuliskan kiat-kiat Agar Terhindar Dari Maksiat yang saca ambil dari salah satu grup whatsapp yang saya ikuti.
Diantaranya adalah :

1 Selalu merasa diawasi oleh Alloh ta'ata.
Kalau didepan makhluk malu untuk mengerjakan dosa dan maksiat, maka sepatutnya lebih malu untuk melakukannya di hadapan Alloh.

2. Takut adzab Alloh.

3. Sering mengingat kematian, karena hidup di dunia hanyalah batu loncatan menuju akhirat.

4. Tidak berangan-angan panjang, karena angan-angan panjang biasanya akan menjadikanmu lalai dan lupa akan kehidupan yang abadi.

5. Menjaga pandangan, karena jika pandangan ini terjaga, maka hatipun akan terjaga.

Inilah beberapa kiat yang bisa diterapkan agar terhindar dari jeratan dosa dan maksiat, semoga bermanfaat.

Wallohu a'lam bishshowab.

Sejarah Munculnya Mu'tazilah



Kelompok pemuja akal ini muncul di kota Bashrah (Irak) pada abad ke-2 Hijriyah, antara tahun 105-110 H, tepatnya di masa pemerintahan khalifah Abdul Malik bin Marwan dan khalifah Hisyam bin Abdul Malik. Pelopornya adalah seorang penduduk Bashrah mantan murid Al-Hasan Al-Bashri yang bernama Washil bin Atha’ Al-Makhzumi Al-Ghozzal. Ia lahir di kota Madinah pada tahun 80 H dan mati pada tahun 131 H. Di dalam menyebarkan bid’ahnya, ia didukung oleh ‘Amr bin ‘Ubaid (seorang gembong Qadariyyah kota Bashrah) setelah keduanya bersepakat dalam suatu pemikiran bid’ah, yaitu mengingkari taqdir dan sifat-sifat Allah. (Lihat Firaq Mu’ashirah, karya Dr. Ghalib bin ‘Ali Awaji, 2/821, Siyar A’lam An-Nubala, karya Adz-Dzahabi, 5/464-465, dan Al-Milal Wan-Nihal, karya Asy-Syihristani hal. 46-48)
Seiring dengan bergulirnya waktu, kelompok Mu’tazilah semakin berkembang dengan sekian banyak sektenya. Hingga kemudian para dedengkot mereka mendalami buku-buku filsafat yang banyak tersebar di masa khalifah Al-Makmun. Maka sejak saat itulah manhaj mereka benar-benar terwarnai oleh manhaj ahli kalam (yang berorientasi pada akal dan mencampakkan dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah -pen). (Al-Milal Wan-Nihal, hal.29)
Oleh karena itu, tidaklah aneh bila kaidah nomor satu mereka berbunyi: “Akal lebih didahulukan daripada syariat (Al Qur’an, As Sunnah dan Ijma’, pen) dan akal-lah sebagai kata pemutus dalam segala hal. Bila syariat bertentangan dengan akal –menurut persangkaan mereka– maka sungguh syariat tersebut harus dibuang atau ditakwil. (Lihat kata pengantar kitab Al-Intishar Firraddi ‘alal Mu’tazilatil-Qadariyyah Al-Asyrar, 1/65)

Mengapa Disebut Mu’tazilah?

Al quran Al karim Dan Perbedaannya Dengan Hadits Qudsi

Al quran secara bahasa adalah bentuk masdar yang sama artinya dengan kalimat al qiroah yang artinya membaca. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah ta’ala :

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ * فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ

Artinya : "Sesungguhnya kami yang akan mengumpulkannya (didadamu) dan membacakannya. Apabila kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu".

Dan dia (al quran) juga adalah bentuk masdar yang berarti isim maf’ul (maqruu’) yang berarti yang dibaca.
Sedangkan maknanya secara istilah adalah perkataan Allah ta’ala yang diturunkan kepada nabi Muhammad sallalluhu ‘alahi wasallam, yang bacaannya bernilai ibadah, yang diawali dengan surat Alfatihah dan diakhiri dengan surat Annas.
Dan Allah ta’ala menjaga sendiri al quran yang agung ini dari perubahan, penambahan, pengurangan ayat ataupun surat, bahkan satu ayat pun tidak akan terjadi. Allah ta’ala berfirman :

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Artinya : "Sesungguhnya kamilah yang menurunkan al quran, dan pasti kami pula yang memeliharanya".
Oleh karena itu, walaupun sudah berabad-abad berlalu, tidak ada seorang pun musuh-musuh Allah yang mampu merubah isi al quran atau menambah atau menguranginya, karena Allah sendiri yang mencegah mereka untuk melakukan hal terrsebut.

Surah Makkiyyah Dan Surah Madaniyyah

Al quran diturunkan kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam secara berangsur-angsur selama kurang lebih dua puluh tiga (23) tahun, dan selama wahyu itu turun rasulullah lebih banyak menghabiskan waktunya di Mekah. Allah ta’ala berfirman didalam surat Al Isra ayat 106 :

((وقرآنا فرقناه لتقرأه على الناس علي مكث ونزلناه تنزيلا))

Artinya : "Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian".

Oleh karena itu, para ulama membagi periode diturukannya al quran menjadi dua periode :

1. Periode Mekah, yaitu periode dimana al quran diturunkan sebelum nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam hijrah ke Madinah.
2. Periode Madinah, yaitu periode dimana al quran diturunkan setelah nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam hijrah ke Madinah.

Dakwah islamiyyah berjalan seiring waktu diturunkannya al quran secara berangsur-angsur sesuai dengan keadaan dan kebutuhan kaum muslimin serta kejadian-kejadian yang mereka alami pada waktu itu, sebagaimana al quran juga diawal-awal masuknya islam pengajarannya lebih terfokus pada pelurusan akidah (kebanyakan terjadi di Mekah), kemudian barulah al quran menjelaskan tentang syariat mencakup halal dan haram dan hukum-hukum yang lainnya (kebanyakan terjadi di Madinah) hingga Allah ta’ala menyempurnakan agamanya. Oleh karena itu, terdapat perbedaan ciri-ciri antara ayat atau surat yang diturunkan pada periode Mekah dan ayat atau surat yang diturunkan pada periode Madinah, dan insyaalloh akan dijelaskan lebih detilnya dibawah ini.

Pengertian Wahyu

 Pengertian wahyu
Wahyu secara bahasa adalah Pemberitaan secara tersembunyi, bisa juga bermakna petunjuk, bisikan, tulisan, dan ilham. Sedangkan pengertiannya secara istilah adalah kalam (perkataan) Allah ta’ala kepada para nabi atau rasul dengan cara-cara tertentu.  Jenis-jenis wahyu Secara umum wahyu terbagi menjadi tiga bagian :

 1. Taklim (penyampaian dengan perkataan) Yaitu wahyu yang Alloh sampaikan kepada para nabi melalui perkataan, melalui perantara malaikat jibril seperti diturunkannya al quran kepada nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam, atau tanpa perantara malaikat jibril seperti pembicaraan langsung Allah dengan nabi Musa ‘alaihissalam.

Pengumpulan Al Quran

Allah ta’ala menjamin terjaganya al quran sampai datangnya hari kiamat, dan Allah ta’la telah menjadikan sebab-sebab terealisasikannya penjagaan tersebut, diantaranya adalah dengan menuliskan atau mencatat al quran dan mengumpulkannya. Cara ini mempunyai beberapa fase, yaitu :

 1. Pada masa Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam. Pada fase ini penjagaan al quran lebih banyak bergantung pada hafalan dari pada tulisan, disebabkan beberapa faktor diantaranya adalah kecepatan dan kekuatan daya hafal orang-orang (para sahabat rasulullah) pada waktu itu, dan sedikitnya orang-orang yang bisa menulis, juga jarang ditemukannya alat-alat tulis. Oleh karnanya, al quran tidak dikumpulkan dalam bentuk manuskrip (naskah), melainkan jika ada orang yang mendengar ayat al quran maka dia akan langsung menghafalnya atau menuliskannya dalam bentuk perkamen (menuliskannya di kulit hewan) juga di pelepah kurma dan di bebatuan. Dan ketika ada ayat atau surat dalam al quran yang turun kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam maka beliau membacakannya kepada para sahabat seperti yang beliau dengar dari malaikat jibril, dan menyuruh para penulis wahyu untuk menuliskannya seperti yang dibacakan rasulullah. Para penulis wahyu adalah para sahabat yang terpilih, mereka adalah : Al khulafau Arrasyidun ( Abu bakar, Umar, Utsman, Ali), Zaid bin Tsabit, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, dan Ubay bin Ka’ab – radhiyallahu ‘anhum ajma’in-

. 2. Pada masa kekhilafahan Abu bakar Ashshiddiq radhiyallahu ‘anhu. Yang menjadi penyebabnya adalah banyaknya para penghafal al quran yang terbunuh (mati syahid) di perang Al Yamamah, diantara mereka adalah Salim (seorang budak dari Abu Hudzaifah dan salah seorang yang rasulluah percaya agar orang-orang menghafal al quran darinya), maka Abu Bakar memerintahkan para sahabat untuk mengumpulkan al quran agar tidak hilang begitu saja. Terdapat didalam Shahih Bukhari bahwasanya Umar bin Khoththob mengusulkan kepada Abu Bakar untuk mengumpulkan al quran setelah terjadinya perang al yamamah, namun Abu Bakar tidak menanggapi usulannya. Akan tetapi, Umar bin Khoththob terus membujuknya hingga Allah ta’ala melapangkan dada Abu Bakar untuk melakukannya. Maka Abu Bakar mendatangi Zaid bin Tsabit yang sedang bersama Umar bin Khoththob dan berkata kepada Zaid bin Tsabit : Sesungguhnya engkau adalah orang yang sangat cerdas, dan engkau telah menuliskan wahyu untuk rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam, maka carilah tulisan-tulisan al quran yang terpisah-pisah dan kumpulkanlah menjadi berupa tulisan al quran yang lengkap. Maka Zaid bin Tsabit berkata : Dan saya pun mecari tulisan-tulisan yang terpisah-pisah di kulit hewan, pelepah kurma, dada-dada manusia (hafalan mereka) dan mengumpulkannya dalam bentuk lembaran-lembaran. Dan lembaran-lembaran tersebut disimpan ditangan Abu Bakar sampai ia meninggal dunia, kemudian ditangan Umar Bin Khoththob dimasa hidupnya, kemudian disimpan di tangan Hafshah binti Umar bin Khoththob radhiyallahu ‘anhum. (H.R Bukhori, kitab Fadhoilul quran, bab jam’u al quran 9/12). Dan kaum muslimin sependapat dengan apa yang dilakukan Abu Bakar dan mereka menjadikan itu sebagai salah satu kebaikan-kebaikan yang telah ia lakukan, sampai-sampai Ali bin Abi Tholib berkata : Orang yang paling besar pahalanya (dalam pengumpulan al quran) adalah Abu Bakar, rahmat Allah untuknya yaitu orang pertama yang mengumpulkan al quran.

Ayo, Belajar Di Pesantren Part 2


Kalo kita mau bandingkan, berapa banyak pengalaman yang bisa kita dapatkan di pesantren daripada di sekolah biasa, mungkin kalkulator atau alat hitung lainnya pasti akan mengalami masalah hingga nge-hang lalu error, bahkan bisa saja alat tersebut mengeluarkan asap karna ada salah satu komponen dalam yang terbakar, atau apalah...kira-kira begitulah gambarannya. Sekali lagi, yang saya maksudkan pesantren disini adalah pesantren modern yang juga terdapat didalamnya sekolah atau pelajaran umum seperti yang anak-anak sekolahan secara umum geluti. Bukan bermaksud mengesampingkan pesantren yang sudah khal layak ramai ketahui, tentu disana juga banyak sekali manfaat yang bisa kita ambil, dan hal itu tidak diragukan lagi. Hanya saja saya ingin mengingatkan kita semua bahwa betapa pentingnya kita merasakan kedua elemen penting tersebut yang bisa menjaga keseimbangan hidup, yaitu pesantren dan sekolah, ilmu ukhrowi dan ilmu duniawi, sehingga kita bisa tau cara bagaimana kita selamat menuju akhirat pun kita tau bagaimana cara hidup di dunia yang juga merupakan unsur penting untuk menuju kehidupan akhirat. Kembali ke perbandingan... Bagaimana tidak, di sekolah biasa kita hanya merasakan atmosfer kebersamaan, entah itu belajar atau bermain minimal 5-8 jam, sedangkan di pesantren bisa sampai 15-18 jam bahkan lebih. Itulah contoh kecil perbandingannya, karna masih banyak sekali contoh-contoh yang lainnya. Canda tawa, senda gurau, tangisan, konflik, pertengkaran, pelanggaran, kasus, hukuman, nasihat, kemarahan, omelan, kritikan, saran, sakit hati, belajar hal baru mulai dari bahasa, kebudayaan, sifat dasar manusia dari berbagai macam tempat, dan hal-hal lainnya yang menghiasi kehidupan para santri, dan hal itulah yang membuat siswa/santri mendapatkan dan mempelajari sesuatu yang belum diketahui sebelumnya dan tidak mungkin bisa ditemukan disemua tempat belajar. Sungguh indah.... Walaupun sebenarnya saya enggan untuk membuat perbandingan seperti ini, karena disetiap perbandingan pasti akan muncul pro dan kontra, dan itu hal yang tidak bisa dihindari, hanya saja mungkin dengan cara seperti ini bisa membuat orang-orang lebih menghargai pesantren bahkan menyadari betapa besarnya peran pesantren dalam mempertahankan agama bahkan negara, sehingga akan banyak yang bisa ambil bagian dalam mempertahankan agama dan negara di pesantren dengan belajar didalamnya. Untuk menghadapi era globalisasi kita perlu punya fondasi kehidupan yang kuat dengan menanamkan pancang ilmu agama dan ilmu dunia, karna kalau fondasinya lemah dengan hanya menggunakan fondasi ilmu dunia, maka saat membangun kehidupan pasti akan terjadi keretakan kehidupan kemudian roboh tak bersisa, yang terlihat hanya puing-puing penyesalan yang berserakan dimana-mana.



Hikmah Diturunkannya Al Quran Secara Berangsur-angsur

 Turunnya Al quran secara berangsur-angsur

 Pertama kalinya al quran diturunkan kepada nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam pada malam qodar (lailatul qodar) di bulan romadhon, Alloh ta’ala berfirman didalam surat al qodr ayat 1 :

 ((إنا أنزلناه في ليلة القدر))

 “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan[1593]”. [1593] Malam kemuliaan dikenal dalam bahasa Indonesia dengan malam Lailatul Qadr Yaitu suatu malam yang penuh kemuliaan, kebesaran, karena pada malam itu permulaan turunnya Al Quran. Dan firman Alloh ta’ala didalam surat addukhon ayat 3 :

 ((إنا أنزلناه في ليلة مباركة إنا كنا منذرين))

 “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi[1369] dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan”. [1369] Malam yang diberkahi ialah malam Al Quran pertama kali diturunkan. di Indonesia umumnya dianggap jatuh pada tanggal 17 Ramadhan. Juga firman alloh ta’ala didalam surat al baqoroh ayat 185 :

 ((شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن هدى للناس وبينات من الهدى والفرقان))

 “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”. Kemudian setelah itu turunlah al quran secara berangsur-angsur dan terus menerus berdasarkan kejadian-kejadian dan kebutuhan manusia, dan itu terjadi selama kurang lebih 23 tahun (13 tahun di Mekah dan 10 tahun di Madinah) Alloh ta’ala berfirman dalam surat al isro ayat 106 :

 ((وقرآنا فرقناه لتقرأه على مكث ونزلناه تنزيلا))

 “Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian”.

 Dan yang menjadi perantara diturunkannya al quran dari Alloh ta’ala kepada rasulullah adalah jibril salah satu dari malaikat-malaikat yang mendekatkan diri kepada alloh ta’ala dan yang mulia, Alloh ta’ala berfirman didalam surat asy syu’aro ayat 192-193 :

 ((وإنه لتنزيل رب العالمين * نزل به الروح الأمين))

“Dan Sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril)”.

  Hikmah diturunkannya al quran secara berangsur-angsur

 1. Menguatkan hati rasulullah, sehingga disaat kerasnya siksaan orang-orang musyrik kepadanya, maka turunlah alquran kepadanya dan hilanglah kegalauan dan kegundahan hatinya – alaihishsholatu wassalam-, Alloh ta’ala berfirman didalam surat al furqon ayat 32 :

 ((وقال الذين كفروا لولا نزل عليه القرآن جملة واحدة كذلك لنثبت به فؤادك ورتلناه ترتيلا))

 “Berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?"; demikianlah[1066] supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar)”. [1066] Maksudnya: Al Quran itu tidak diturunkan sekaligus, tetapi diturunkan secara berangsur-angsur agar dengan cara demikian hati Nabi Muhammad s.a.w menjadi kuat dan tetap.

2. Mempermudah dalam memahami, membaca dan menghafalnya, dan memahami makna-maknanya dan mengamalkannya karena rasulullah membacakannya kepada para sahabat sedikit demi sedikit, Alloh ta’ala berfirman didalam surat al isro ayat 106 :

 ((وقرآنا فرقناه لتقرأه على مكث ونزلناه تنزيلا))

“Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian”.

 3. Memperkuat keinginan untuk menerima al quran yang Alloh turunkan dan mengamalkannya, karena orang-orang akan berharap dan menantikan turun ayat yang berikutnya, terlebih saat ada kebutuhan mendesak seperti pada ayat al ifk (surat an nur ayat 11 sampai 30).

 4. Pensyariatan secara gradasi (bertahap) sampai pada fase (tingkatan) yang sempurna seperti pada ayat-ayat pengharaman khomer dan yang lainnya, dan pembinaan orang-orang muslim dan penguatan iman mereka secara bertahap disebabkan mereka baru memeluk agama islam disaat-saat diturunkannya al quran.


Cinta

Cinta... Cinta itu bisa datang dan pergi, tapi lebih sering datang dari pada pergi. Entah itu salah atau benar, tapi menurut saya itu benar. Jangan tanya kenapa..! itu pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Atau mungkin bisa dijawab, dan jawabannya sangat simpel...(karna itu yang mungkin kita rasakan saat ini). Hehe...yap, dia selalu datang begitu saja, berbeda saat dia pergi, kadang kita harus mengerahkan seluruh kemampuan kita agar dia pergi. Bukan karna tidak suka, hanya karna kita tidak ingin larut dalam buayannya. Banyak orang yang tidak sadar bahwa dia telah tunduk pada cinta, yang seharusnya cintalah yang harus tinduk pada kita. Kita yang mengendalikan cinta, bukan cinta yang mengendalikan cinta. Mungkin kita semua pernah mendengar kalimat “cinta itu buta”, dan itu bisa jadi benar adanya. Oleh karnanya, ketika kita tau kalau cinta itu buta, kita yang harus bisa mengendalikan cinta supaya kita tidak dibutakan olehnya. Berbeda dengan orang yang dikendalikan oleh cinta, dia akan mengikuti apapun yang diinginkan cinta, saat cinta buta, maka dia pun ikut buta sehingga tidak bisa membedakan mana cinta yang seharusnya diperjuangkan dan mana yang tidak. Kita tidak tau apakah cinta yang kita rasakan ini harus diperjuangkan atau tidak, tapi saya ingin mengikuti kata hati saya,.. “cinta ini harus diperjuangkan” eh, bukan...” saya harus berjuang ‘untuk cinta yang harus diperjuangkan’ ”. Ok, biar saya perjelas....ehmm.., banyak orang yang salah kaprah tentang ‘cinta yang harus diperjuangkan’, sebelum kita memperjuangkan cinta, kita harus lebih dulu tau tentang ‘hakikat cinta’ itu apa, agar kita tau cinta mana yang harus diperjuangkan. Setiap orang pasti punya pendapat sendiri tentang makna cinta, dan sejarah mencatat bahwa manusia tidak pernah satu suara terntang maknanya walaupun maksudnya sama. Bahkan para penyair yang kesehariannya menumpahkan tintanya untuk menuliskan kata-kata cinta bersepakat untuk tidak bersepakat dalam pemaknaan cinta. Cinta dalam bahasa arab berarti الحُبُّ (Al Hubb) konon kata tersebut diambil dari kata الحَبُّ (Al Habb) bentuk jamak dari kata الحَبَّة (Al Habbah) yang bermakna “biji tumbuhan” atau asal atau pusat sesuatu, dan hati merupakan asal atau pusat yang penting bagi manusia dan disanalah cinta bersemayam. Sedangkan menurut Ibnul Qoyyim rohimhulloh cinta adalah kecondongan hati terhadap sesuatu yang ia sukai dan berkeinginan untuk menjadi suatu tersebut atau menirunya dalam segala hal, dan menafikan semua rasa cinta didalam hati kecuali cintanya pada sesuatu tersebut. Dan satu hal yang harus kita perhatikan, mencintai sesuatu harus dilandasi dengan pemahaman terhadap rambu-rambu yang sudah ditetapkan juga kita harus tau kepada siapa dan kapan kita mencintai. Oleh karnanya, cinta yang hakiki adalah cinta yang berpangkal manis didunia, dan berujung manis di akhirat. Cinta yang membuat kehidupan didunia penuh dengan kebahagiaan, serta membawa keselamatan di akhirat. Tentunya cinta yang sesuai dengan tuntunan syar’i, yang tidak hanya bahagia didunia namun di akhirat sengsara. Maka inilah cinta yang harus diperjuangkan. Sebab banyak sekali orang yang terbuai dengan kebahagiaan karna cinta yang semu, berpacaran dengan dalih mengenal satu sama lain agar kelak saat menikah sudah mengenal satu sama lain dan tau kelebihan dan kekurangan masing-masing supaya tercipta cinta yang hakiki. Tidak ada cinta yang hakiki saat berpacaran, melainkan yang ada hanyalah cinta syahwati. Bermesraan sebelum menikah itu cinta syahwati, bermesraan setelah menikah itu cinta hakiki. Bersabar untuk sesuatu yang lebih indah itu yang utama, tanpa tergesa-gesa yang akhirnya sengsara. Jika kita mencintai seseorang maka bersabarlah, hingga tiba saatnya moment yang tepat untuk mengkhitbah. Jangan takut akan kehilangan, karna jika alloh sudah menetapkan kita hidup bersamanya maka akan jadilah. Kalaupun kita ditakdirkan tidak bersama, maka yakinlah alloh akan menggantikannya dengan yang lebih baik untuk kita, karna disaat kita berfikir bahwa cinta kita bertepuk sebelah tangan, maka yakinlah akan ada tangan yang lain yang melengkapi tangan kita untuk mendapatkan tepukan yang sangat keras dan meriah. Dan harus kita camkan pula, مَنْ يَزْرَعْ يَحْصُدْ kita akan menuai apa yang kita tanam, dan tentu itu sesuai dengan yang kita tanam, karna إِنَّ الجَزَاءَ مِنْ جِنْسِ العَمَلِ kita akan mendapatkan ganjaran sesuai dengan apa yang kita perbuat. Wallohu a’lam

Like us on Facebook
Follow us on Twitter
Recommend us on Google Plus
Subscribe me on RSS