Secara kuantitas, kebutuhan manusia tidak terbatas, hampir-hampir tidak pernah berhenti jika satu kebutuhan sudah terpenuhi, maka akan muncul kebutuhan yang lain sehingga manusia akan memperjuangkan seluruh hidupnya untuk memuaskan rentetan kebutuhan yang tiada hentinya. Namun secara kualitas, keinginan dan kebutuhan manusia sebetulnya terbatas (limited), yang tak terbatas adalah nafsu. Keinginan untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum berlangsung dalam jangka waktu dan tempat yang terbatas. Dalam transaksi riil yang kita lakukan juga ada keterbatasan, baju bisa dihitung, rumah bisa dihitung. Jadi transaksi riil terbatas, umur juga terbatas. Bahkan kini alat pemenuh kebutuhan manusia, sentuhan teknologi dan ilmu pengetahuan menjadi tak terbatas.
Sebenarnya itulah sifat dari kebutuhan yang memerlukan dan mengarah pada usaha-usaha yang tetap dari sisi kehidupan manusia untuk memenuhi kebutuhan yang secara kuantitas senantiasa bertambah, namun secara kualitas ada batasnya. Itulah yang disinyalir dalam al quran surah (Al ma'arij : 19-22) yaitu "Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir, bila ditimpa kesusahan ia berkaluh kesah, dan apabila ia mendapatkan kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang shalat".
Share this on your favourite network





artikel anda sangat menarik sekali, saya juga mempunyai tulisan sejenis mengenai jurnal serupa yang bisa anda kunjungi
ReplyDeleteDisini Happy Sharing