Powered by Blogger.

Beberapa Faham Pemenuhan Kebutuhan

Tiga faham aktifitas ekonomi dalam pemenuhan kebutuhan

1. Faham Spiritual atau Ruhbaniyyah

Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, faham spiritual hanya bertumpu pada do'a saja, lebih menekankan pada aspek moral, kerohanian dan menyampingkan aspek kebendaan dalam kehidupan manusia.

2. Faham Material dan Kebendaan

Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, menekankan pada aspek kebendaan, segala ikhtiar manusia hanya terfokus pada pencapaian materi (kebendaan), sedangkan aspek moral diabaikan sehingga dalam pemenuhan kebutuhan hanya tertumpu pada aspek ekonomi semata yang pada akhirnya dalam cara perolehannya menghalalkan segala macam cara, baik dengan jalan benar maupun tidak.

3. Konsep Islam

Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, faham islam selaras dan seimbang antara kebutuhan material dan kebutuhan etika manusia, antara kebutuhan jasmani (hajat 'udhowiyyah) dan kebutuhan rohani (hajat al ghoroiz). Apabila aspek moral daipisahkan dari kebutuhan dan perkembangan ekonomi, maka akan kehilangan kontrol yang menjaga kastabilan dan keseimbangan dalam sistem sosial.

Keseimbangan merupakan salah satu prinsip islam yang sangat mendasar, yang banyak disebutkan contohnya didalam al quran, baik yang menyangkut keseimbangan alam lingkungan (Q.S. Ar-Rahman : 7-9), keseimbangan manusia didunia dan akhirat (Q.S. Al-Qoshos : 77), maupun keseimbangan dalam berinfaq (Q.S. Al-Furqon : 67), Al-Isra : 29). Keseimbangan ini apabila dilanggar oleh manusia akan menimbulkan goncangan, dan ketidakstabilan, dan berakibat kerusakan (Q.S. Ar-Ruum ; 41).

Macam-Macam Kebutuhan Manusia

Kebutuhan manusia secara kuantitas dapat dikelompokan sebagai berikut :

1. Berdasarkan sumber yang merasakan kebutuhan, dikelompokan menjadi dua, yaitu :
    
    a. Kebutuhan jasmani (al-hajat al-'udhowiyah), merupakan kebutuhan yang lebih banyak dirasakan oleh jasmani (raga) manusia. Misalnya seseorang memakai pakaian akan merasakan tubuhnya lebih hangat, ia berlindung dibawah pohon maka ia tisak akan merasakan panasnya matahari, ia makan dan minum akan merasakan hilangnya rasa lapar dan haus. Kebutuhanseperti ini merupkan suatu keharusan yang memerlukan pemenuhan segera ketika tuntutan itu datang. Dalam batas tertentu, kebutuhan ini tidak bisa ditunda-tunda karena akan menimbulkan kemudhorotan jasmani, bahkan berakibat kematian bila tidak segera dipenuhi, seperti kebutuhan akan makan dan minum.

    b. Kebutuhan naluri (hajat al-gharaiz), kebutuhan ini lebih banyak dirasakan oleh rohani (jiwa) manusia, Misalnya orang yang  beribadah, jiwanya merasa tentram, kemudian orang yang selamat dari amukan binatang buas akan mersa tenang kembali setelah hilangn rasa takutnya, lalu ketika bertemu seseorang yang dirindukan iamrasa bahagia.

Ada tiga gharizah yang butuh akan pemenuhan :
1. Gharizah at-tadayyun (naluri beragama)
2. Gharizah al-baqo" (naluri memperthankan diri)
3. Ghaizah an-nau' (kecenderungan terhadap orang lain).
Berbeda dengan hajat al-'udhowiyah, gharizah ini bilamana tidak terpenuhi dalam batas tertentu, tidak membahayakan jasmani dan tidak berakibat kematian.
Selain itu, tuntutan akan kebutuhan jasmani selalu muncul dari dalam diri manusia, seperti rasa lapar dan haus, sedangkan tuntutan akan kebutuhan gharizah setelah adanya rangsangan yang datang dari luar diri manusia.
Allloh menciptakan alam semesta sebagai rangsangan terhadap gharizah at-tadayyun guna memenuhi kebutuhannya. Dan ini semua diisyaratkan pada :
- Q.S. Adz dzariyat : 20-22
Artinya : "Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin,
dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?

Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezkimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu".

- Q.S. Fathir : 27-28
Artinya: "Tidaklah kamu melihat bahwasannya Allah menurunkan hujan dari langit lalu kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka ragam jenisnya. Dan diantara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. Dan demikian (pula) diantara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun".

- Q.S. Al an'am : 57-78

- Q.S. Al Waqi'ah : 57-72

Sementara gharizah an nau' khususnya berkenaan dengan jinsiyyah (lawan jenis), maka segala bentuk rangsangan yang melahirkan tuntutan pemenuhan dibatasi oleh Alloh ta'ala, seperti larangan berkholwat dan ikhtilath (Q.S. Al Isra : 32) “Dan janganlah kalian mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk", perintah menutup aurat (Q.S. An-nur : 30-31) ", dan menahan / menundukan pandangan (Q.S. Al Ahzab : 59).

2. Berdasarkan tingkat kepentingan, kebutuhan dikelompokan menjadi tiga, yaitu :
  a. Kebutuhan Primer (al hajat al asasiyyah)
 Merupakan kebutuhan yang senantiasa harus dipenuhi (kebutuhan dasar). Makan, minum, pakaian, dan rumah merupakan kebutuhan dasar manusia, baik miskin maupun kaya.
 b. Kebutuhan sekunder (al hajat al kamaliyyah)
 Merupakan kebutuhan pelengkap. Seorang yang telah memiliki rumah dan mempunyai taraf kehidupan yang baik akan membeli barang elektronik seperti televisi dan kulkas. Kegiatan ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan sekunder.
 c. Kebutuhan tersier (tahsinat)
 Merupakan kebutuhan yang sangat mewah (lux). Seperti mobil mewah, perhiasan yang mahal. Kebutuhan tersier ini hanya dapat dipenuhi oleh orang berpenghasilan tinggi. Karna barang-barang dirumahnya telah lengkap.

Dalam menyikapi kebutuhan, islam memberikan solusi yaitu adanya keseimbangan antara kebutuhan material dan kebutuhan etika manusia, atau antara kebutuhan jasmani (hajat al 'udhowiyyah) dan kebutuhan rohani (hajat gharizah). Sehingga dalam memenuhi kebutuhannya, selalu memperhatikan hal-hal yang memang dianggap perlu, dengan mengutamakan kebutuhan primer dari kebutuhan-kebutuhan sekunder.


Peran dan kewajiban negara atau pemerintah dalam memenuhi kebutuhan ini adalah memberikan kemudahan bagi setiap anggota masyarakat agar sedapat mungkin memenuhi kebutuhan primernya, disamping memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier sesuai dengan kemampuannya. Dengan prinsip tidak berlebihan dan bermewah-mewah menurut hawa nafsu, karena yang demikian berarti mengikuti langkah-langkah syetan (Q.S. Al Baqoroh : 168), (Q.S. Al An'am : 141-142), (Q.S. An Nisa : 31). 

Permasalahan Ekonomi lslam #1

A. Kebutuhan Manusia

Secara kuantitas, kebutuhan manusia tidak terbatas, hampir-hampir tidak pernah berhenti jika satu kebutuhan sudah terpenuhi, maka akan muncul kebutuhan yang lain sehingga manusia akan memperjuangkan seluruh hidupnya untuk memuaskan rentetan kebutuhan yang tiada hentinya. Namun secara kualitas, keinginan dan kebutuhan manusia sebetulnya terbatas (limited), yang tak terbatas adalah nafsu. Keinginan untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum berlangsung dalam jangka waktu dan tempat yang terbatas. Dalam transaksi riil yang kita lakukan juga ada keterbatasan, baju bisa dihitung, rumah bisa dihitung. Jadi transaksi riil terbatas, umur juga terbatas. Bahkan kini alat pemenuh kebutuhan manusia, sentuhan teknologi dan ilmu pengetahuan menjadi tak terbatas.

Sebenarnya itulah sifat dari kebutuhan yang memerlukan dan mengarah pada usaha-usaha yang tetap dari sisi kehidupan manusia untuk memenuhi kebutuhan yang secara kuantitas senantiasa bertambah, namun secara kualitas ada batasnya. Itulah yang disinyalir dalam al quran surah (Al ma'arij : 19-22) yaitu "Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir, bila ditimpa kesusahan ia berkaluh kesah, dan apabila ia mendapatkan kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang shalat".

Perbedaan Sistem Ekonomi Islam Dengan Ekonomi Yang Lain

Perbedaan Sistem Ekonomi Islam Dengan Ekonomi Yang Lain

1. Asumsi dasar / norma pokok ataupun aturan main dalam proses maupun interaksi kegiatan ekonomi yang diberlakukan. Dan asumsi dasarnya adalah "syari'ah Islam" diberlakukan secara menyeluruh, seperti yang dijelaskan didalam surah (al baqoroh : 208) "Hai orang-orang yang beriman masuklah kalian kedalam islam secara keseluruhan". baik terhadap individu, keluarga, kelompok masyarakat, maupun pemerintah / penguasa, usahawan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, baik untuk keperluan jasmaniah maupun rohaniah.

2. Sumber syari'at adalah al quran, sunnah rosul, ijma', dan qiyas.

3. Prinsip ekonomi islam adalah penerapan asas efisiensi dan manfaat dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan alam. Seperti yang terdapat didalam surah (al 'ashr : 1-3), dijelaskan bahwa Alloh ta'ala bersumpah demi masa - dan Alloh tidak bersumpah kecuali dengan hal yang agung - bahwasanya seluruh manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang mempunyai empat sifat, yaitu (iman, beramal sholeh, saling menasehati perihal kebenaran, dan saling menasehati dalam bersabar)

4. Motif ekonomi islam adalah mencari "keuntungan" di dunia dan di akhirat selaku khalifatullohi fil ardhi dengan jalan beribadah secara luas.
Seperti yang terdapat didalam surah (ash shaff : 10), bahwa Alloh ta'ala menjelaskan tentan perniagaan yang bisa menyelamatkan manusia dari adzab neraka, dan itulah sebaik-baiknya keuntungan yang didapatkan manusia.

5. Untuk membangun sebuah sistem ekonomi diperlukan tiga prinsip :

a. Prinsip kepemilikan (mabda' al milkiyyah),

 Maknanya adalah, manusia mempunyai hak untuk memiliki sesuatu, akan tetapi harus diyakini pula bahwa pemilih yang hakiki untuk segala sesuatu adala Alloh ta'la, bukan hanya yang kita miliki, tapi diri kita sendiri adalah milik Alloh ta'ala.

 b. Prinsip kebebasan tashorruf / pengelolaan kepemilikan (mabda' al hurriyah al iqtishodiyyah)

Maknanya adalah, manusia mempunyai kebebasan untuk mengelola barang yang dimilikinya, dengan catatan harus sesuai dengan ketentuan syariat islam.

 c. Prinsip keadilan dalam distribusi (mabda' al 'adalah al ijtima'iyyah)

Dan  prinsip yang ketiga ini merupakan hal terpenting, karena dengan dijalankannya prinsip ini, dapat terealisasinya peme
rataan kesejahteraan manusia, dan tidak adanya kesenjangan sosial di kehidupan masyarakat, dikarenakan penyaluran kesejahteraan dilakukan dengan adil.

Like us on Facebook
Follow us on Twitter
Recommend us on Google Plus
Subscribe me on RSS