1. Pada masa Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam. Pada fase ini penjagaan al quran lebih banyak bergantung pada hafalan dari pada tulisan, disebabkan beberapa faktor diantaranya adalah kecepatan dan kekuatan daya hafal orang-orang (para sahabat rasulullah) pada waktu itu, dan sedikitnya orang-orang yang bisa menulis, juga jarang ditemukannya alat-alat tulis. Oleh karnanya, al quran tidak dikumpulkan dalam bentuk manuskrip (naskah), melainkan jika ada orang yang mendengar ayat al quran maka dia akan langsung menghafalnya atau menuliskannya dalam bentuk perkamen (menuliskannya di kulit hewan) juga di pelepah kurma dan di bebatuan. Dan ketika ada ayat atau surat dalam al quran yang turun kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam maka beliau membacakannya kepada para sahabat seperti yang beliau dengar dari malaikat jibril, dan menyuruh para penulis wahyu untuk menuliskannya seperti yang dibacakan rasulullah. Para penulis wahyu adalah para sahabat yang terpilih, mereka adalah : Al khulafau Arrasyidun ( Abu bakar, Umar, Utsman, Ali), Zaid bin Tsabit, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, dan Ubay bin Ka’ab – radhiyallahu ‘anhum ajma’in-
. 2. Pada masa kekhilafahan Abu bakar Ashshiddiq radhiyallahu ‘anhu. Yang menjadi penyebabnya adalah banyaknya para penghafal al quran yang terbunuh (mati syahid) di perang Al Yamamah, diantara mereka adalah Salim (seorang budak dari Abu Hudzaifah dan salah seorang yang rasulluah percaya agar orang-orang menghafal al quran darinya), maka Abu Bakar memerintahkan para sahabat untuk mengumpulkan al quran agar tidak hilang begitu saja. Terdapat didalam Shahih Bukhari bahwasanya Umar bin Khoththob mengusulkan kepada Abu Bakar untuk mengumpulkan al quran setelah terjadinya perang al yamamah, namun Abu Bakar tidak menanggapi usulannya. Akan tetapi, Umar bin Khoththob terus membujuknya hingga Allah ta’ala melapangkan dada Abu Bakar untuk melakukannya. Maka Abu Bakar mendatangi Zaid bin Tsabit yang sedang bersama Umar bin Khoththob dan berkata kepada Zaid bin Tsabit : Sesungguhnya engkau adalah orang yang sangat cerdas, dan engkau telah menuliskan wahyu untuk rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam, maka carilah tulisan-tulisan al quran yang terpisah-pisah dan kumpulkanlah menjadi berupa tulisan al quran yang lengkap. Maka Zaid bin Tsabit berkata : Dan saya pun mecari tulisan-tulisan yang terpisah-pisah di kulit hewan, pelepah kurma, dada-dada manusia (hafalan mereka) dan mengumpulkannya dalam bentuk lembaran-lembaran. Dan lembaran-lembaran tersebut disimpan ditangan Abu Bakar sampai ia meninggal dunia, kemudian ditangan Umar Bin Khoththob dimasa hidupnya, kemudian disimpan di tangan Hafshah binti Umar bin Khoththob radhiyallahu ‘anhum. (H.R Bukhori, kitab Fadhoilul quran, bab jam’u al quran 9/12). Dan kaum muslimin sependapat dengan apa yang dilakukan Abu Bakar dan mereka menjadikan itu sebagai salah satu kebaikan-kebaikan yang telah ia lakukan, sampai-sampai Ali bin Abi Tholib berkata : Orang yang paling besar pahalanya (dalam pengumpulan al quran) adalah Abu Bakar, rahmat Allah untuknya yaitu orang pertama yang mengumpulkan al quran.
3. Pada masa khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu pada tahun 25 hijriah. Dan penyebabnya adalah perbedaan bacaan kaum muslimin karena terdapatnya perbedaan lembaran-lembaran al quran yang berada ditangan para sahabat nabi, sehingga ditakutkan munculnya fitnah dan perselisihan diantara mereka. Maka khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu memerintahkan agar lembaran-lembaran tersebut dikumpulkan menjadi satu naskah (mushaf) saja, sehingga tidak terjadi perselisihan tentang al quran dan cerai berai diantara mereka. Seperti yang terdapat dalam shahihul bukhari, bahwasanya Hudzaifan bin Al Yaman radhiyallahu ‘anhu menghadap khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu setelah terjadinya penaklukan Armenia dan Azerbaijan karena melihat perselisihan kaum muslimin mengenai al quran seperti perselisihan antara orang-orang yahudi dan orang-orang nasrani. Maka Utsaman bin Affan radhiyallahu ‘anhu mengirim utusan kepada Hafsah binti Umar bin khoththob radhiyallahu ‘anha untuk menyampaikan pesannya yang berisi : kirimkanlah kepada kami lembaran-lembaran al quran yang ada pada anda agar kami menjadikannya satu naskah saja, dan setelah itu kami akan mengembalikan semuanya pada anda. Maka Hafshah binti khoththob radhiyallahu ‘anha mengabulkan permintaannya. Dan setelah itu, Utsman radhiyallahu ‘anhu memerintahkan Zaid bin Tsabit (dari kaum anshar), Abdullah bin Zubair, Sa’id bin Al ‘Ash, dan Abdurrahman bin Al Harits bin Hisyam (dari kaum muhajirin kabilah quraisy) menjadikan lembaran-lembaran tersebut menjadi satu naskah. Utsman berkata kepada tiga orang sahabat dari quraisy tersebut : apabila kalian berselisih dengan Zaid bin Tsabit tentang sesuatu yang berkaitan dengan bacaan al quran, maka tulislah dengan lisan (bacaan) orang-orang quraisy karna al quran diturunkan dengan lisan (bahasa) mereka, dan mereka pun melakukannya. Saat mereka sudah menjadikan lembaran-lembaran tersebut menjadi naskah-naskah (mashahif), Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu – setelah bermusyawarah dengan para sahabat - mengembalikan lembaran-lembaran tersebut kepada Hafshah binti Umar radhiyallahu ‘anha, kemudian mengirimkan naskah-naskah al quran tersebut keseluruh penjuru dunia dan memerintahkan para sahabat untuk membakar semua lembaran-lembaran atau naskah-naskah alquran selainnya. Dan tentunya Utsman melakukan ini berdasarkan hasil musyawarah dengan para sahabat lainnya, sebagaimana yang diriwayatkan dari Abu Daud dari Ali radiyallahu ‘anhu bahwasanya dia berkata : Demi Allah, sesungguhnya apa yang dia (Utsman) lakukan dengan al quran adalah hasil musyawarah dengan kami. Dia (Utsman) berkata : Saya kira alangkah baiknya kalau semua orang hanya menggunakan satu mushaf yang telah kita sepakati sehingga tidak terjadi perpecahan dan perselisihan karna adanya perbedaan (bacaan al quran). Maka kami berkata : kami sangat setuju, usulanmu sangat bagus sekali wahai khalifah. Dan Mush’ab bin sa’d berkata : Saya mendapati orang-orang tidak ada yang mengeluh ketika Utsman membakar naskah-naskah alquran yang ada sebelumnya, dengan kata lain tidak ada seorang pun yang mengingkari apa yang dilakukan Utsman, bahkan itu dinilai menjadi salah satu kebaikan-kebaikan yang dilakukan amirul mukminin Utsman rodhiyallahu ‘anhu yang disepakati oleh kaum muslimin. Maka dengan dibakarnya mushaf-mushaf (selain yang telah disepakati untuk digunakan) sempurnalah pengumpulan al quran penyusunan, penjagaan dan penyampaiannya berdasarkan lafadz-lafadz yang secara mutawatir diturunkan kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sesuai dengan yang diturunkan jibril. Dan mushaf itu adalah mushaf yang kita gunakan sekarang ini.
URUTAN AYAT DAN SURAT DALAM AL QURAN
Urutan Ayat Dalam Al quran
Para ulama bersepakat bahwasanya penentuan urutan ayat langsung dari Allah ta’ala yang disampaikan oleh malaikat jibril kepaada rasulullah, dan tidak ada seorang sahabatpun atau selain mereka yang punya urusan tentang masalah ini.
Urutan Surat Dalam Al quran
Dan ini ditetapkan berdasarkan ijtihad para ulama, didalam shahih muslim ada hadits yang diriwayatkan dari Hudzaifah bin Al Yaman rodhiyallahu ‘anhu bahwasanya pada suatu malam dia pernah shalat bersama Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam, dan pada shalatnya rasulullah membaca surat al baqarah kemudian membaca surat annisa kemudian membaca surat ali imran. Maka sebagian ulama berpendapat bahwa kebanyakan surat-surat dalam al quran sudah diurutkan oleh rasulullah semasa hidupnya, seperti Assab’u aththiwal (tujuh surat-surat awal yang panjang) dan alif lam hamim (surat yang diawali dengan alif lam atau hamim), dan al mufashshol (surat-surat pendek), sedangkan surat-surat yang selain itu kemungkinan diurutkan oleh para ulama sepeninggal rasulullah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : Boleh membaca surat ini sebelum surat ini (membaca al quran tidak sesuai dengan urutan surat yang tertera di mushaf, misalnya membaca surat al maidah kemudian membaca surat annisa, begitupun didalam shalat juga diperbolehkan, seperti yang dilakukan oleh rasulullah pada hadits diatas, pen.) begitu pula dalam penulisannya. Oleh karnanya, banyak macam-macam cara pengurutan surat-surat yang ada pada naskah-naskah al quran yang dimiliki para sahabat sebelum adanya mushaf Utsman. Akan tetapi, ketika para sahabat bersepakat untuk menggunakan satu mushaf pada masa Utsman rodhiyallahu ‘anhu urutan surat-surat menjadi satu, hingga jadilah ini sunnahnya khulafaurrasyidun, karna ada hadits yang menyatakan bahwa mereka juga mempunyai sunnah yang wajib diikuti. Intaha kalamuhu rahimahullahu ta’ala.
Sumber : Diktat al quran wa ulumuhu
Share this on your favourite network




0 comments:
Post a Comment