Cinta...
Cinta
itu bisa datang dan pergi, tapi lebih sering datang dari pada pergi. Entah itu
salah atau benar, tapi menurut saya itu benar. Jangan tanya kenapa..! itu
pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Atau mungkin bisa dijawab, dan jawabannya
sangat simpel...(karna itu yang mungkin kita rasakan saat ini). Hehe...yap, dia
selalu datang begitu saja, berbeda saat dia pergi, kadang kita harus mengerahkan
seluruh kemampuan kita agar dia pergi. Bukan karna tidak suka, hanya karna kita
tidak ingin larut dalam buayannya.
Banyak
orang yang tidak sadar bahwa dia telah tunduk pada cinta, yang seharusnya
cintalah yang harus tinduk pada kita. Kita yang mengendalikan cinta, bukan
cinta yang mengendalikan cinta. Mungkin kita semua pernah mendengar kalimat
“cinta itu buta”, dan itu bisa jadi benar adanya. Oleh karnanya,
ketika kita tau kalau cinta itu buta, kita yang harus bisa mengendalikan cinta supaya kita tidak dibutakan olehnya. Berbeda dengan orang yang dikendalikan oleh cinta, dia akan mengikuti apapun yang diinginkan cinta, saat cinta buta, maka dia pun ikut buta sehingga tidak bisa membedakan mana cinta yang seharusnya diperjuangkan dan mana yang tidak.
ketika kita tau kalau cinta itu buta, kita yang harus bisa mengendalikan cinta supaya kita tidak dibutakan olehnya. Berbeda dengan orang yang dikendalikan oleh cinta, dia akan mengikuti apapun yang diinginkan cinta, saat cinta buta, maka dia pun ikut buta sehingga tidak bisa membedakan mana cinta yang seharusnya diperjuangkan dan mana yang tidak.
Kita tidak
tau apakah cinta yang kita rasakan ini harus diperjuangkan atau tidak, tapi
saya ingin mengikuti kata hati saya,.. “cinta ini harus diperjuangkan” eh,
bukan...” saya harus berjuang ‘untuk cinta yang harus diperjuangkan’ ”. Ok,
biar saya perjelas....ehmm.., banyak orang yang salah kaprah tentang ‘cinta
yang harus diperjuangkan’, sebelum kita memperjuangkan cinta, kita harus lebih
dulu tau tentang ‘hakikat cinta’ itu apa, agar kita tau cinta mana yang harus
diperjuangkan.
Setiap
orang pasti punya pendapat sendiri tentang makna cinta, dan sejarah mencatat
bahwa manusia tidak pernah satu suara terntang maknanya walaupun maksudnya sama.
Bahkan para penyair yang kesehariannya menumpahkan tintanya untuk menuliskan
kata-kata cinta bersepakat untuk tidak bersepakat dalam pemaknaan cinta.
Cinta
dalam bahasa arab berarti الحُبُّ (Al
Hubb) konon kata tersebut diambil dari kata الحَبُّ (Al
Habb) bentuk jamak dari kata الحَبَّة (Al
Habbah) yang bermakna “biji tumbuhan” atau
asal atau pusat sesuatu, dan hati merupakan asal atau pusat yang penting
bagi manusia dan disanalah cinta
bersemayam. Sedangkan menurut Ibnul Qoyyim rohimhulloh cinta adalah kecondongan
hati terhadap sesuatu yang ia sukai dan berkeinginan untuk menjadi suatu
tersebut atau menirunya dalam segala hal, dan menafikan semua rasa cinta
didalam hati kecuali cintanya pada sesuatu tersebut. Dan satu hal yang harus
kita perhatikan, mencintai sesuatu harus dilandasi dengan pemahaman terhadap
rambu-rambu yang sudah ditetapkan juga kita harus tau kepada siapa dan kapan
kita mencintai. Oleh karnanya, cinta yang hakiki adalah cinta yang berpangkal
manis didunia, dan berujung manis di akhirat. Cinta yang membuat kehidupan
didunia penuh dengan kebahagiaan, serta membawa keselamatan di akhirat.
Tentunya cinta yang sesuai dengan tuntunan syar’i, yang tidak hanya bahagia
didunia namun di akhirat sengsara. Maka inilah cinta yang harus diperjuangkan. Sebab
banyak sekali orang yang terbuai dengan kebahagiaan karna cinta yang semu,
berpacaran dengan dalih mengenal satu sama lain agar kelak saat menikah sudah
mengenal satu sama lain dan tau kelebihan dan kekurangan masing-masing supaya
tercipta cinta yang hakiki. Tidak ada cinta yang hakiki saat berpacaran,
melainkan yang ada hanyalah cinta syahwati. Bermesraan sebelum menikah itu
cinta syahwati, bermesraan setelah menikah itu cinta hakiki. Bersabar untuk
sesuatu yang lebih indah itu yang utama, tanpa tergesa-gesa yang akhirnya
sengsara. Jika kita mencintai seseorang maka bersabarlah, hingga tiba saatnya
moment yang tepat untuk mengkhitbah. Jangan takut akan kehilangan, karna jika
alloh sudah menetapkan kita hidup bersamanya maka akan jadilah. Kalaupun kita
ditakdirkan tidak bersama, maka yakinlah alloh akan menggantikannya dengan yang
lebih baik untuk kita, karna disaat kita berfikir bahwa cinta kita bertepuk
sebelah tangan, maka yakinlah akan ada tangan yang lain yang melengkapi tangan
kita untuk mendapatkan tepukan yang sangat keras dan meriah.
Dan harus kita camkan pula, مَنْ يَزْرَعْ يَحْصُدْ kita akan menuai apa yang kita tanam, dan tentu itu sesuai dengan yang kita tanam, karna إِنَّ الجَزَاءَ مِنْ جِنْسِ العَمَلِ kita akan mendapatkan ganjaran sesuai dengan apa yang kita perbuat. Wallohu a’lam
Share this on your favourite network




ok
ReplyDelete